Artikel-artikel inspiratif seputar kebahagiaan, kesehatan, dan kemakmuran.

mandiriyes logo

Jika saya terpaksa harus memulai semuanya lagi,
daripada membangun bisnis tradisional,
saya akan lebih suka membangun sebuah bisnis pemasaran jaringan.
-Robert T. Kiyosaki

4 tingkat kebahagiaanManusia yang normal pasti mempunyai impian atau cita-cita. Entah itu menjadi dokter, mempunyai gadget terbaru, menikah, menjadi orang kaya, lulus sekolah, meneruskan kuliah S2, mempunyai usaha sendiri, mempunyai rumah sendiri, mempunyai mobil, menjuarai sebuah kompetisi atau pertandingan olah raga, berlibur ke luar negeri, mendirikan tempat ibadah, dan lain sebagainya. Anda bisa menambah daftar itu. Namun tujuan atau ujung dari semua cita-cita tersebut hanya satu, yaitu untuk mendapatkan kebahagiaan.

Menurut Aristoteles (384 SM – 322 SM), filsuf Yunani, ada empat tingkat kebahagiaan. Pembagian tingkatan ini sudah dikonfirmasi kebenarannya oleh oleh teologi, filsafat, psikologi, sosiologi dan banyak disiplin ilmu modern. Istilah yang dipakai bisa saja berbeda, tetapi tingkatan-tingkatan itu pada dasarnya berbicara tentang hal yang sama seperti yang disampaikan oleh Aristoteles 2400 tahun yang lalu. Keempat tingkat kebahagaiaan itu adalah sebagai berikut.

 

TINGKAT SATU

Kebahagiaan yang berasal dari benda-benda dan kesenangan-kesenangan yang diberikan oleh benda-benda tersebut.

Ini adalah kebahagiaan dalam bentuk yang paling dasar. Kebahagiaan ini bisa didapat dari makan coklat, kepuasan seksual, makan makanan kesukaan, mengendarai mobil sport, menjalankan hobi seperti bersepeda, berenang, bermain bola, dan dari berbagai bentuk kepuasan fisik lainnya.

Kebahagiaan Tingkat 1 itu baik, tetapi terbatas. Kesenangan yang diberikan bersifat segera tetapi dangkal, berumur pendek dan terputus-putus.

 

TINGKAT DUA

Kebahagiaan yang berasal dari pencapaian pribadi dan kepuasan ego.

Anda merasakan kebahagiaan ini bila orang memuji anda; bila mereka mengakui popularitas anda; bila anda memenangkan sebuah pertandingan olah raga atau dipromosikan dalam pekerjaan anda. Kebahagiaan Tingkat 2 biasanya bersifat komparatif karena ego itu mengukur keberhasilan berdasarkan keunggulan terhadap orang lain. Anda bahagia apabila anda dipandang lebih cerdas, lebih menarik, atau lebih penting dari pada orang lain, dan anda tidak berbahagia apabila anda kalah dalam permainan perbandingan tersebut.

Tidak ada yang salah dengan kebahagiaan tingkat 2. Itulah yang mendorong kemajuan. Membuat manusia membangun Taj Mahal, Opera Sydney House, dan menara Burj Khalifa. Manusia memerlukan keberhasilan, harga diri dan rasa hormat untuk mencapai hal-hal baik dalam hidup.

Tetapi apabila kebahagiaan tingkat 2 – yang notabene adalah promosi diri – menjadi satu-satunya tujuan anda, maka orang lain akan menjadi pesaing, penantang, dan masalah anda. Orang-orang yang terkunci di kebahagiaan tingkat 2 bisa saja mengalami kegagalan dalam pernikahan. Dunia politik, hiburan dan olah raga dipenuhi dengan orang-orang yang mengejar kebahagiaan tingkat 2 ini.

Kebahagiaan tingkat 2 bersifat jangka pendek dan lemah. Anda dapat berbahagia bahwa anda menang hari ini, tetapi kemudian cemas karena mungkin anda akan kalah besok.

 

TINGKAT TIGA

Kebahagiaan yang berasal dari perbuatan baik untuk orang lain dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Kebahagiaan Tingkat 3 lebih tahan lama karena diarahkan menuju keinginan manusia untuk cinta, kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kesatuan.

Kebahagiaan ini mampu menginspirasi pencapaian-pencapaian besar karena mampu menyatukan orang-orang untuk mengejar kebaikan bersama, sementata kebahagiaan tingkat 2 cenderung memecah belah.

Kebahagiaan tingkat 3 bersifat empatik, tidak mementingkan diri sendiri, dan mencari kebaikan dalam diri orang-orang lain, bukan kekurangan mereka. Ia melihat kehidupan sebagai sebuah kesempatan dan sebuah petualangan, bukan sebagai serangkaian masalah yang harus diatasi. Kebahagiaan ini bisa dicapai apabila kita berpindah dari diri sendiri ke orang lain. Yaitu, ketika kita mulai hidup untuk melayani orang lain, atau bermanfaat untuk orang lain. Kebahagiaan ini melibatkan komitmen, memberi, loyalitas, kepedulian, pengampunan, penerimaan, kasih sayang, dan pengorbanan diri.

Kebahagiaan tingkat 3 membuat kebahagiaan tingkat 2 menjadi lebih indah dan sehat: kita mulai dengan berprestasi, untuk melayani. Misalnya, “saya ingin menjadi pengacara yang terbaik, agar bisa membesarkan anak-anak saya, dan juga membantu orang-orang miskin”. Orang lain tidak lagi menjadi pesaing kita. Mereka justru menjadi mitra kita untuk mencapai sesuatu yang lebih mulia dari pada kepuasan ego kita.

Karena manusia mempunyai keterbatasan, kebahagiaan tingkat 3 juga mempunyai keterbatasan. Tidak ada manusia yang sempurna, maka kita tidak dapat menemukan kepuasan yang sempurna pada diri orang lain.

Contoh pribadi dengan kebahagiaan tingkat 3 di zaman ini adalah Bill Gates. Saat ini, pendiri Microsoft ini lebih memusatkan hidupnya pada kegiatan kontribusi. Yayasan yang didirikannya banyak memberikan bantuan di bidang kesehatan, antara lain untuk upaya penurunan penyakit-penyakit TBC, HIV, dan Malaria.

 

TINGKAT EMPAT

Kebahagiaan akhir yang sempurna.

Apabila orang lain gagal memenuhi permintaan kita, kita kecewa. Demikian juga, jika kita sendiri gagal memenuhi apa yang kita inginkan. Kekecewaan ini menunjuk kepada sebuah kerinduan universal manusia akan transendensi dan kesempurnaan. Kerinduan akan keberadaan atau pengalaman yang melampaui tingkatan normal atau fisik.

Kita tidak hanya sekedar menginginkan cinta, kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kesatuan; kita menginginkan semuanya itu dalam bentuk yang final, sempurna, dan yang tidak pernah berakhir. Semua orang mempunyai keinginan akan kesempurnaan tersebut, yang oleh para psikolog disebut sebagai keinginan akan transendensi – rasa terhubung dengan semesta yang lebih besar. Beberapa orang mengungkapkan keinginan ini melalui spiritualitas dan keyakinan agama. Beberapa orang lain mengungkapkan kerinduan yang sama melalui filsafat, melalui seni, atau melalui upaya-upaya ilmiah untuk memecahkan misteri kehidupan dan alam semesta.

Contoh pribadi dengan kebahagiaan tingkat 4 adalah Bunda Teresa, walaupun beliau juga contoh yang baik untuk pribadi dengan kebahagiaan tingkat 3. Contoh lainnya adalah para biarawan, para pertapa dan para sufi yang menjauhi hidup keduniawian dan lebih mengutamakan kehidupan spiritual.
Di tingkat berapakah sumber kebahagiaan anda sekarang?




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Kategori Artikel

Happy

Healthy

Wealthy


Kecantikan

Motivasi & Inspirasi

Lain-lain




Dapatkan update artikel terbaru dengan 'Like' Facebook Page kami.





Home | JM Ocean Avenue | Freedom Faithnet Global | Tentang Kami | Hubungi Kami | Order | Daftar Distributor | Login | Kebijakan Privasi | Disclaimer

Copyright © 2014 - 2015 Mandiriyes.com. All rights reserved.